Google Translate

Jumat, 16 September 2011

What's POE MICHELANGELO?





              Poe Michealgelo artinya adalah karya besar ciptaan seorang Poe Edyson, remaja berumur 21 tahun. Poe itu diambil dari nama saya sendiri,  sedangkan Michealgelo diambil dari nama seorang pelukis, pemahat, pujangga, dan arsitek zaman Renaissance. kalian tentunya tau donk karya-karyanya Michelangelo yang hidup sepanjang masa, seperti lukisan malaikat-malaikat diatas langit-langit gereja. patung malaikat yang telanjang dan masih banyak lagi.


Tentang Michelangelo

Ia bernama asli Michaelangelo Buonarroti' atau nama lengkapnya dalam bahasa Italia Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni (dalam bahasa Spanyol disebut Miguel Ángel; dalam bahasa Perancis disebut Michel-Ange, yang kurang lebih berarti Malaikat Mikail).
  Ia terkenal untuk sumbangan studi anatomi di dalam Seni Rupa. Karyanya yang dianggap terbaik adalah Patung David, Pietà, dan Fresko di langit-langit Kapel Sistina.

Lahir dekat Arezzo, di Caprese, Toscana, Italia tahun 1475 (lahir 6 Maret 1475 – meninggal 18 Februari 1564 pada umur 88 tahun). Ayahnya Lodovico di Leonardo di Buonarotti di Simoni adalah seorang pegawai hukum di Caprese. Ibunya Francesca di Neri del Miniato di Siena. Keluarganya memiliki status kebangsawanan rendah.

Awal pembelajaran, pengaruh keluarga Medici

Ayahnya menginginkan agar Michaelangelo berkonsentrasi ke profesi yang dianggap lebih mapan, namun Michaelangelo menyukai seni rupa. Ia lalu dibina oleh Domenico Ghirlandaio (namun dengan suatu sebab Michaelangelo menolak hal ini) dan Bertoldo di Giovanni. Ghirlandaio kemudian merekomendasikannya kepada Lorenzo de Medici. Ia lalu membuat beberapa karya yang cukup mengagumkan (untuk usianya yang masih belasan tahun), namun belum mampu membuat namanya menjadi lebih terkenal, di antaranya:
  • Madonna de la Salsa (1490-1492)
  • Battle of the Centaurs (1491-1492)

Tentang Poe

 Poe Edyson, lahir di Singkawang 17 Oktober 1989 ini seorang penulis Blogger, saya mulai menulis sejak SMA dan memulai Blogging sejak tanggal 7 juni 2010 dengan beberapa karya cerpen-cerpen remaja yang menarik dan menginspirasi. saya tumbuh dalam lingkungan masyarakat tionghua yang masih sangat kental dangan tradisi nenek moyang, dalam keluarga yang sederhana saya menyelesaikan pendidikannya sebagai lulusan SMA di Singkawang Kalimantan barat, Indonesia.



Oh ya… buat teman-teman yang ingin baca karya tulis Poe Edyson lainnya, bisa cek langsung disini ya…

Visit My Blog: Poe Michealgelo
                      www.poe-edyson.blogspot.com
Follow My Twitter: @xcelpoe
Add My Facebook: Xmon KenzZoe

Kutipan Favorite:
“lebih baik kehilangan masa mudaku
dari pada kehilangan masa depanku!”

             Jadi Poe Michelangelo adalah Blog yang berisi kisah-kisah True story dan fiction yang menyentuh dan menginspirasi. berisi kisah kehidupan remaja, percintaan, persahabatan dan perjuangan yang ditulis oleh saya sendiri dalam bentuk cerpen, puisi, dialog drama dan cerita bersambung. Disini kita akan melihat kehidupan dari sudut pandang kebanyakan remaja.  Hidup remaja itu seperti warna pelangi, selalu berwarna-warni menjadi satu. Meskipun ada hujan sebelum datangnya pelangi, seperti tulisan diblog ini, ada Cerpen komedy, cerpen sedih, cerpen horror, cerpen motivasi, cerpen menyentuh dan cerpen menarik lainnya. Semua tertuang menjadi penuh warna, meski pun kadang ada air mata yang mengalir sebelum menulisnya menjadi indah.
Menurutku Tulisan itu adalah fosil kata, Artefak kalimat,  dan Jejak sejarah hidup, yang apabila terukir selamanya tidak akan berubah... seperti karya besar lukisan dan patung Michelangelo yang akan selalu dikenang sepanjang masa.
I love Writting!!!

Senin, 12 September 2011

Dermaga

note: ini kisah lanjutan "KOMA" atau episode 2 dari NOVEL TERBARU karya Poe Edyson. yang belum baca episode pertama silahkan cek postingan sebelumnya atau klik disini!

Ditepi sungai yang tenang angin bertiup lembut, burung-burung bersenandung ria dengan kicauan-kicauan kecil yang menyenangkan, pohon-pohon segar berayun-ayun. Hmm… indahnya alam membuat mereka melupakan pelajaran-pelajaran sekolah.

Anzlic merendamkan ujung kakinya kedalam air sungai dari dermaga kayu itu, menyusul Vito juga menenggelamkan kedua kakinya. Duduklah mereka berdua diatas dermaga yang disampingnya ada sebuah tiang kayu yang tinggi dan ujungnya bergantung lampu lentera yang masih menyala. Suara aliran sungai mengalir indah seperti perasaan mereka yang sedang terbawa bahagia. Mereka banyak mengobrol dan saling bertatapan, tetapi beberapa kali suara lompatan ikan kecil mengalihkan perhatian mereka. Gadis berketurunan indo itu menyandarkan bahunya kesebelah bahu vito yang terlihat kurus, vito membelai rambut ikal itu sambil menatap kagum dari wajahnya yang cantik hingga badan seksinya dengan mengenakan gaun berwarna merah muda sambil angannya berbisik
Oh Tuhan… dia cantik sekali hari ini… dia manis.
Anzlic… nama gadis lembut ini sudah satu tahun menjalin hubungan dengan Vito setelah bertemu diacara ulang tahun kakaknya Vito. Namun sebenarnya mereka pernah satu sekolah ketika SMP dulu, tapi tidak pernah berbicara. Tapi karena ulah kakaknya setahun yang lalu sebagai mak comblang, akhirnya sekarang mereka akrab dan dekat sekali layaknya sepasang kekasih seperti yang lainnya. Wajar saja Vito mau menerima perjodohan itu, karena Anzlic memiliki sepasang mata yang indah, bibir penuh yang seksi, selain itu dia juga memiliki sepasang kaki yang panjang dan mulus seperti boneka Barbie. Maka jika Anzlic berdiri dia seperti seorang supermodel dengan tubuh yang sexy. Pastinya bukan hanya karena cantik dari luar saja yang Vito kagumi, sifat Anzlic yang sangat dewasa dan perhatian membuat Vito menjadi manja setiap didekatnya.
“sungai ini pasti akan menjadi saksi kita ya sampai kita menikah nanti…” cerita Anzlic.
“hah? Menikah?” Tanya Vito.
“iya… suatu hari nantikan kita pasti akan menikah… jadi tidak salah kan kalau kita memikirnya?”
“hmm… aku belum memikir sejauh itu…”
“loh tidak apa-apa… aku benar-benar sayang sama kamu, bahkan tidak ingin kehilangan kamu. Aku ingin kita pacaran sampai kita merried…” jelas Anzlic.
Vito hanya tersenyum menatap sungai seolah tidak tahu bagaimana memberikan jawaban yang tepat, meski cintanya sudah amat dalam kepadanya lebih dari apapun, tapi mungkin dia tidak pernah berpikir sejauh itu atau mungkin dia belum mengerti banyak soal itu.
“kenapa koq hanya senyum aja?” Tanya Anzlic sambil mengenggam tangan Vito untuk memberikan keyakinan bahwa cinta yang digenggam ditangan Vito adalah cinta sejatinya.
“hehehe…(Vito cengar-cengir lalu menatap serius kepada wajah anzlic yang bulat) aku setuju…!”
“promise me?” Anzlic mengangkat jari kelingking pada tangan sebelahnya dan Vito mengikati jari kelingkingnya menjadi satu dengannya.
“setelah menikah kamu ingin punya anak berapa say…?” Tanya Anzlic kembali
“hmm… 8 cukup say?” Vito menjawab dengan nada meledek.
“Hah??? Cape dunk aku ngelahirinya?”
“iya… dan kedelapan-kedelapannya itu harus cewe semua… hahahaha…”
“emank kucing?” Anzlic pura-pura cemberut.
“hehehe… ngga koq! Satu juga boleh, yang penting cewek ya?” senyum Vito.
“kenapa harus cewek?”
“sebab Nenekku sangat ingin cucu cewek, tapi cucu cewek dia satu-satunya meninggal gara-gara kecelakaan. Selain itu dia juga ga punya anak cewek.”
“oh kasihan ya dia…”
“aku bawa sesuatu buat kamu… pejamin mata kamu dulu!” perintah Vito membuat Anzlic penasaran dan segera memejamkan matanya.
“tapi kamu jangan membuka mata sampai aku kembali ya…” kata Vito lalu segera berlari disepanjang dermaga itu menuju kemobilnya dan mengambil sesuatu dari dalam.
“kamu ga akan mendorong aku kesungaikan Vit? Vito… Vito dimana kamu?” kata Anzlic dan merasa sepi, sepertinya dia merasakan kekasihnya tidak ada didekatnya lalu pelan-pelan ia memulai membuka sedikit demi sedikit matanya itu dan melihat sinar matahari dari pancaran air sungai begitu menyilaukan matanya. Lalu Ia melihat sebuah boneka Barbie yang indah didepannya matanya, boneka itu masih dalam genggaman tangan laki-laki kurus itu, ia menyerahkan sambil tersenyum lebar, wajah Vito terlihat manis karena sepasang lesung pipi begitu dalam menghiasinya ketika ia tersenyum.
“Surprize…” seru Vito menyerahkan boneka kesukaan Anzlic.
“Wah… ini Boneka Barbie seri terbaru ya? Koq kamu bisa dapatin boneka indah ini? Bajunya cantik sekali” Tanya pecinta boneka Barbie itu dengan bangga.
“Aku tau banyak soal seri Barbie dari majalah yang ada di dalam mobil kamu minggu lalu!”
“memang sudah ada di Indonesia? Kan belum pernah lauching…”
“seri ini tidak akan lauching diIndo, soalnya limited edition. Jadi cuma ada satu di seluruh dunia?”
“Oh ya… pasti mahal sekali… OMG…”
“tidak seberapa koq… itu special loe aku bela-belain pesan buat kamu.”
“kamu pasti pesan langsung dari Italy ya? Atau USA?”
“bukan…”
“Hmm… aku tau ini pasti dari France… or rancangan designer Rapunzel production dari Singapure may be? Wow… u are really amazing,,” puji Anzlic.
“Dari perusahaan papa…” Gubrak.
“WhAts???” Tanya Anzlic sambil memasang muka aneh.
“tapi itu aku yang Design, Zlic. Terus dibikin deh sama papa… Hahahahaa…” kata Vito sambil tertawa terpingkal-pingkal sehingga membuat Anzlic ikut tertawa.
“oh ya zlic, abis dari sini nanti kamu ikut papa dan mama aku makan sate langganan kita ya”
“dimana?”
“ada deh… pokoknya kamu ikut aja! Dijamin enak! Hehehehe…”
Mereka duduk berdua di ujung dermaga dan terus mengobrol hingga sore hari dan menikmati sunset lalu tidak lama kemudian mereka meninggalkan dermaga itu.
            Sore menjelang malam itu, Papa dan mama mereka hadir ditengah-tengah meja makan disebuah teras makan kaki lima, ditepi kota Tua itu ada sebuah gerobak sate abang-abang yang sate kambingnya terkenal dikota itu. Memang setiap malam tempat sederhana itu dikunjungi oleh banyak pengunjung. Itulah tempat makan favorit ayah Vito. Kira-kira 2 minggu sekali mereka makan disini. Papa dan mamanya duduk berdampingan, sedangkan kakaknya marsya duduk berdampingan dengan Bryan, pacar Marsya yang bertubuh atletis dan tinggi karena bekerja di Fitness center sebagai menager, sedangkan Vito disamping Anzlic pastinya.
            Sambil mengobrol mereka menikmati sate kambing yang baru saja dihidangkan dengan begitu lahap, sepertinya sate itu memang sangat lezat rasanya, Bahkan papanya sudah tiga kali tambah. Ketika papanya baru selesai makan ada seorang pengamen datang membawa gitar, pengamen dengan suara yang fals dan tidak jelas bernyanyi dimeja-meja pengunjung lainnya, ketika pengamen itu menghampiri meja mereka, ayah Vito segera meminjam gitar pengamen dengan memberikan beberapa lembar uang dan menyuruhnya kembali beberapa saat lagi.
“melihat kalian sebahagia ini, membuat papa teringat kepada masa muda papa… papa mau nyanyi lagu favorite papa waktu dulu naksir berat sama mama kalian…” Jelas papanya.
“papa kalian dulu orangnya romantic loh…” kata mama membuat semua tersenyum.
“jangan Om… jangan…” kata Bryan.
“loh??? kenapa jangan?” Tanya Marsya.
“jangan ragu-ragu maksudnya. Hahahaha…”
“lagu apa tuh om?” Tanya Anzlic ikut semangat.
“Marsya tau… ‘Laguku’ ciptaan ungu kan?” kata Marsya yakin, sedangkan Vito yang juga tau judul lagu tersebut tapi dia hanya terdiam dan tersenyum-senyum saja melihat suasana kebahagiaan mereka dipinggir jalan itu.
“hahahaha… iya pintar…” kata papanya lalu mulai memetik senar gitar dan memulai intro awal.
Jreng… jreng… (petikan gitar lembut)
Semua menyambut lagu itu dengan senyuman lembut dan tawa-tawa kecil disertai tepukan tangan.

Mungkinkah kau tau…

Rasa cinta yang kini membara
Yang masih tersimpan dalam lubuk jiwa…
Ingin kunyatakan lewat kata yang mesra untukmu
Namun ku tak kuasa untuk melakukannya
Reff:
Mungkin hanya lewat lagu ini
Akan kunyatakan rasa
Cintaku padamu, rinduku pada
Tak bertepi…
Mungkin hanya sebuah lagu ini
Yang slalu akan kunyanyikan
Sebagai tanda betapa ku ingin kamu…

Suara bass yang sangat khas itu keluar dari mulut seorang bapak yang sudah berumur dan masih terdengar sangat merdu, bukan karena suaranya yang bagus, tapi karena dia menyanyikan lagu itu dengan perasaan yang mendalam terhadap istri tercintanya.
Mereka semua terhanyut dengan lagu tua itu sambil menatap ekspresi wajah papa Vito yang sangat serius dalam menghayati satu persatu-satu lirik lagu tersebut, bahkan sesekali mata direktur perusahaan boneka itu menatap mata sang istri lalu memejamkan matanya saat meneriakkan suara tinggi seperti benar-benar dari hati. Sedangkan Vito terus sibuk menatap wajah lembut sang ibunya yang sudah sedikit mengkerut itu, wajahnya tersipu malu tapi matanya berlinang air mata. Vito tahu mamanya sangat menyukai lagu itu, karena setiap kali keluarga mereka berkumpul diruang karaoke dirumahnya, papa dan mamanya pasti menyanyikan lagu itu dengan gaya duet mereka. Selain itu lagu tersebut pernah menyisakan banyak kenangan dan arti-arti yang tak dapat orang lain mengerti selain yang merasakan.
Ooo…
Mungkin hanya lewat lagu ini akan kunyatakan rasa
Cintaku padamu… rinduku padamu…tak bertepi…
Mungkin hanya sebuah lagu ini, yang slalu akan kunyanyikan
Sebagai tanda betapa ku ingin kamu…
Meja-meja makan sekeliling mereka mulai kosong, malam mulai semakin larut dan jalanan pun mulai sepi. Sang abang sate sedang sibuk membereskan peralatan dan gerobak satenya, sepertinya satenya pun sudah terjual habis dan yang masih terlihat hanya 6 orang dimeja itu. Mereka mengobrol, bercanda dan sesekali terpingkal-pingkal mendengar cerita mama Vito tentang papanya ketika muda. Mereka hangat dan dekat sekali seperti satu keluarga besar, bahkan Anzlic dan Bryan saja sudah sejak lama bisa terbuka dan akrab dengan orang tua Vito dan Marsya.
Biarlah mereka terus tertawa dimalam yang dingin itu, sinar sang bulan purnama akan menerangi malam mereka…
Hingga mereka lelah dan menghilang dari pinggiran jalan yang harusnya sunyi jikalau tanpa mereka.
***
            Marsya merebahkan tubuhnya yang terasa begitu berat ke ranjang springbednya yang berwarna putih bersih dengan mata yang begitu memaksanya untuk terpejam, disusul oleh adiknya, Vito menjatuhkan tubuhnya dengan begitu kencang sehingga springbed itu menciptakan gelombang yang membuat Marsya kaget dan membuka mata.
“ngapain loe kekamar kakak?” Tanya Marsya dengan suara yang mengantuk.
“Vito mau curhat kak…” jawab Vito yang selalu curhat jika mempunyai masalah atau hal-hal yang ingin dia tanyakan soal wanita, maka itu dia pasti akan mencari kakaknya ini.
“hemm…”jawab kakaknya lemes.
“kakak tau ga? Tadi siang… Anzlic cantik banget ketika dia bersandar dibahu Vito. Dia terlihat anggun dengan gaun pinknya. Dia mengenggam tangan vito kak… dan dia bilang… tau ga dia bilang apa? Dia bilang ingin menikah denganku kak, ingin punya anak, ingin punya rumah. Dan lucunya… katanya rumah itu mau diwarnain pink dan didalamnya dengan colourful yang cerah seperti rumah boneka Barbie kesayangannya. Hahahahaha…. Kadang-kadang dia terlihat dewasa, kadang-kadang dia juga terlihat seperti anak-anak ya? Terus kita membayangkan kita menikah seperti kisah cinderela… Hahahahaha… happy Ending deh! Hahahaha… so sweet kan kak? Kak Marsya? Loh? Koq diam? …?” cerita Vito berhenti ketika dia sadar mendengar sesuatu dari sebelahnya dan menolehnya.
Zzz… Zzz… Zzz… suara dengkuran kakaknya semakin lama semakin kencang membuat Vito kesal sehingga dia melemparkan boneka beruang yang berukuran lumayan besar itu kewajah kakaknya sambil berkata,
“sialan loe kak ga mau dengerin kisah romantic gw…”
Marsya sepertinya masih sadar, dan memperlihatkan sedikit cengirnya itu,”hehehe…”
“nyesel loe ntar… awas aja!” ledek Vito.
Zzz… Zzz… Zzz… zZZZ… suara dengkuran itu semakin kencang.
Vito mengangkat badannya dengan wajah cemberut sambil memikirkan wajah pacarnya tadi siang lalu ia kembali tersenyum-senyum sendiri.
Hufh… jatuh cinta… berjuta rasanya…
            Minggu pagi yang cerah kembali datang… sinar mentari menyinari hingga menembus masuk kekamar dan ranjang Marsya. Tubuh yang tinggi dan sexy itu masih berbaring malas diranjangnya, selimut berantakan itu hanya menyelimuti bagian kepala dan punggungnya, kedua kaki mulus dan panjang itu terlihat begitu putih apalagi diterangi sinar mentari. Sebelah tangannya yang panjang juga terlihat memeluk batal guling berwarna putih itu. Sungguh tidak adil selimut itu hanya menutupi sebelah tangannya dan mukanya.
Dor… dor… Dooor… suara ketukan pintu didepan kamarnya terdengar kecil.
Kreekk… pintu itu terbuka lalu masuk Bryan dengan pakaian rapi dan membawa seikat bunga mawar. Memang pacarnya yang satu ini suka bertingkah romantic terhadap Marsya.
Hmm… sepertinya dia ingin memberikan kejutan kepada sang kekasih. Ia mendekati ranjangnya pelan-pelan, lalu ia menaruh bunga itu didekat tangannya itu, ia mulai menyentuh sepasang kaki yang mengenakan celana yang amat pendek lalu pelan-pelan merangkul tubuhnya dan memeluknya dan membisikkan lembut sebuah kata,
“selamat pagi cintaku…”
“Bryan…!” panggil Marsya dari belakang, ia berdiri didepan pintu toilet kamarnya dengan piyama putih dan rambutnya dibalut dengan handuk karena masih basah.
“Marsya???” kata Bryan kaget dan salah tingkah, “jadi ini siapa???”
Vito yang semalam tertidur dikamar kakaknya itu sebenarnya sadar bahwa ada seseorang yang menyentuhnya, tapi dia hanya terdiam membiarkannya. Mungkin dia memang sengaja ingin mengerjain calon kakak iparnya itu. Vito ikut kebingungan ketika ia ingin membuka selimut dari wajahnya, tapi dengan cepat Bryan membuka selimuti itu dari kepala Vito.
“Vito…!!!” teriak Bryan.
“hehehehe…” Vito hanya cengar-cengir dengan wajah yang pura-pura bodoh.
“ya ampun… kakak minta maaf, kirain kak Marsya tadi…”
“hahahaha…” Marsya tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Bryan yang salah memeluk orang.
“abis badan Vito benar-benar kayak cewek gitu. Badannya kecil gitu. Hahahaha...” alasan Bryan.
“hehehehe… ^.^ ga apa-apa koq! Hehehe…. Jadi kakak biasa begitu kalau bangunin kak Marsya? Hmm… bangun Ah!” kata Vito beranjak dari ranjang itu lalu melanjutkan katanya, “mau aduin kepapa ah cara kakak Bryan bangunin kak Marsya. Hahahaha…”
“Vito… vito… tunggu… jangan…” cegah Bryan tersipu malu.
“Jangan ragu-ragu maksudnya? Hahahaha…” teriak Vito dari luar kamar kakaknya.
“udah… biarin… sono tunggu dimeja makan aja! Aku mau ganti baju dulu…” saran Marsya membuat Bryan keluar kamar.
***
            Sarapan pagi kembali mempersatukan mereka diruang makan, seperti biasanya setelah mereka selesai mandi dan siap-siap melakukan aktivitas mereka. Papa mereka duduk dibagian depan menghadap semua orang dan sedang serius menikmati sarapan pagi.
“Om… rapi amat om? Hari minggu masih kekantor?” Tanya Bryan kaget melihat papa pacarnya tidak tampil seperti hari minggu biasanya, hari ini dia memakai kemeja putih dan berdasi merah dengan jas hitam dibelakang kursinya.
“iya… om harus menyelesaikan banyak tugas dikantor.” Kata papanya sambil mengunyah nasi dimulutnya.
“oh… pusing juga ya jadi direktur. Hahahaha…”
“iya… jangan pikir jadi direktur itu enak, tanggung jawab dan resikonya juga besar, jika om satu minggu aja ya tidak kekantor, bisa-bisa pekerjaan saya jadi berantakan. Hahahaha…”
“hahahaha…” tawa Bryan terhenti melihat Vito duduk didepannya.
“Vito, kamu belum mandi?” Tanya papanya.
“belum pa, hari ini Vito ga kemana-mana koq!” jawab Vito.
“meski begitu tetap harus mandi, mandi pagi itu sehat Vit”
“kamu koq pake celana kakak kamu to?” Tanya mamanya.
“hehehehe… iya semalem kecapean, abis pulangnya kemalaman jadi Vito tidurnya dikamar kakak.”
Begitu Marsya duduk dikursi samping Bryan itu, ia langsung meminum jus jeruk yang ada dimeja itu.
“kakak… jahat loe ya ga dengarin kisah gw semalem.” Kata Vito.
“sorry… abis kakak kecapean… ngantuk berat… hehehe…” jelas kakaknya.
“yeah… alesan…” bantah Vito.
“abis… cerita kamu basi sih Vit, kakak uda bosan dengar cerita kamu, ga romantic juga dipaksa-paksain romantic. Kan kakak ama kak Bryan paling romantic didunia ini setelah papa dan mama. Hahahaha…”
“Marsya… udah beresin sarapannya.” Perintah mamanya.
“Vito aduin kepapa nieh soal kak Bryan!” kata Vito meledek.
“aduin apa?” Tanya mamanya.
Kaki Bryan secepatnya menginjak kaki Marsya memberi tanda-tanda.
“apa?” Tanya papanya serius.
“Pa… tau ga?...” kata Vito terputus karena suara deringan hp papanya begitu kencang.
Kring,,, kring,,, kring,,,
Lalu, ayahnya pun meminum habis air putih digelasnya dan menjawab panggilan itu.
“hallo…” sapa papanya.
“…” suara dari balik telpon tidak terdengar.
“iya selamat pagi?”
“…”
“iya, dengan saya sendiri.”
“…”
“oh… maaf, dari mana? Iya! Iya…”
“…”
“Oh… penawaran kerja sama dari pabrik kapas? Baik… baik… bisa langsung hubungin manager saya, pak!”
“…”
“iya, kebetulan kekantor hari ini, oh mau ketemu saya langsung?”
“…”
“sebentar…” kata papa Vito lalu menjauhkan ponselnya dari bibirnya dan berkata kepada mereka,
“maaf… om berangkat dulu ya Bryan. Ya Vito, kita sambung nanti vit, oh ya nanti malam ada yang pengen papa sampaikan sama Vito. Ok?” kata ayahnya sambil mencium pipi istri tercintanya dan melanjutkan pembicaraan diponselnya sambil sebelah tangannya memegang jas hitamnya dan tas laptopnya.
“halo, iya? Bisa… bisa…! Saya akan segera sampai kekantor. Ok!”
“…”
“Ok… terima kasih juga…”
“…”
“pagi…”

To be continue...

Note: teman-teman ini cerita Novel saya yang kedua ya, judulnya "Triangle Love" it's about comedy love story... jangan lupa koment dan tunggu lanjutanya ya? akan segera diupload.


Oh ya,,, baca juga Novel Pertama saya, judulnya

The Neighbour
open The door if you dare
and discover the secret

Sipnosis
Cerita ini bukan berawal dari sebuah dongeng…
Bukan juga sebuah lagenda…
Tapi sebuah sejarah yang pernah ada…
Sejarah yang sudah menjadi mitos…
Mitos yang ditakuti oleh semua siswa disekolah itu…
It’s a True Story…

Berawal dari kenakalan siswa yang bernama Xmon,

dengan obsesinya yang besar untuk melihat hantu,
Dia mencoba membuka sumur angker yang sudah ditutup sejak 20 tahun yang lalu
dan masuk kekelas kosong yang dilarang dalam mitos.

Hingga suatu ketika…

hantu-hantu dalam imajinasinya menjadi benar-benar ada dan menerornya…
apakah yang sebenarnya terjadi dengan Xmon hingga dia terus-terusan dihantui keluarga aneh disebelah rumahnya?

Anda akan menemukan cerita kocak persahabatan, percintaan, budaya Tionghua, broken home hingga teror-teror yang membuat imajinasi anda ikut bermain…

Temukan jawabannya dalam rumah kosong itu,
Beranikah anda membuka pintunya dan menemukan jawaban akhirnya?

note: dapatkan segera novelnya!!!

bisa pesan online lewat penerbitnya disini
http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1108232/the_neighbour/11071821/poe_edyson
atau hubungi kontak dibawah ini
081388042525

Thanx all...

moga terhibur dan menginspirasi...

Selasa, 06 September 2011

KOMA

“aku sudah tidak sanggup lagi melihatmu begini menderita… aku ingin mati saja…”

Pikir seorang remaja laki-laki berwajah oriental itu duduk disamping tempat tidur seorang pasien yang sedang berbaring lemah dalam kamar ICU, dari raut wajahnya tersirat kesedihan yang amat sangat mendalam.


Sesekali air matanya masih menetes setelah berlinang penuh dikelopak matanya yang sipit. Pipinya yang sedikit chubby terlihat masih basah, ingusnya pun sesekali naik turun seiring isakannya. Tetesan infuse menetes seiring berjalannya detik jam dinding yang bergantung didinding putih itu. Matanya bengkak dan berlingkaran hitam dibawahnya. Sepertinya dia sudah beberapa malam tidak tidur karena menjaga orang itu.
“papa… sudah tiga bulan papa berbaring seperti ini… kapan papa akan bangun? Kapan papa akan sembuh? Jangan membuat kami menunggu terlalu lama…”kata laki-laki itu lirih.
“papa tau…kakak tiap pagi pergi kegereja untuk mendoakan papa… mama seperti orang gila terus-terus berbicara sendiri dan melipat bintang kertas untuk memohon harapan… aku tiap hari bernyanyi untuk papa, mama tiap malam berdonggeng untuk papa, kakak mondar-mondir mengurus perobatan terbaik papa… apakah papa tidak bisa melihat dan mengerti… kami ingin papa cepat sembuh…” teriak laki-laki itu terbawa emosi.
Sejenak dia berhenti berbicara karena melihat papanya masih berbaring diam seperti mayat dan berpikir,
‘sepertinya percuma aku terus berbicara dengannya… dia masih koma…aku percaya dia pasti akan sembuh… cepatlah sembuh papa… kami semua menunggumu… selalu menunggumu… meskipun aku tidak tahu kapan hari itu datang…’
Laki-laki itu segera bangun dari kursinya, lalu menaikan tempat tidur papanya dibagian depan sehingga badan papanya sedikit terangkat seperti posisi duduk.
“ayo papa… saatnya bangun, papa pasti cape berbaring terus… minum sedikit ya pa? supaya bibir papa tidak kering…”kata laki-laki itu sambil mencelupkan jari telunjuknya kedalam air putih didalam gelas yang dipegangnya, lalu pelan-pelan dia membasahi bibir papanya yang kering itu dengan sentuhan lembut jari telunjuknya, Berulang-ulang kali hingga beberapa tetes masuk kedalam mulut papanya, dia melakukannya setiap pagi seperti jam saat ini.
Tiba-tiba dia mendengar suara beberapa orang tertawa dan berbisik kecil dengan raut muka mengejek, kemudian laki-laki itu menatap kearah orang-orang itu disebalik kaca luar ruangan itu, membuat dia emosi dan melemparkan gelas itu kekaca pintu itu hingga gelas itu terjatuh kelantai dan pecah, sehingga membuat orang-orang itu kaget dan berlari. Dia teringat beberapa waktu itu juga ada beberapa orang yang menertawainya ketika dia mendorong tubuh papanya yang koma dengan kursi roda, karena pada saat itu laki-laki itu bernyanyi dan berbicara sendiri seperti berbicara dengan patung.
Dia menjadi sangat marah dan emosi… dia menangis… lalu berkata,
“papa lihat sendirikan?vito sudah seperti orang gila… semua orang menertawakan kita… vito benar-benar tidak sanggup melihat ayah seperti ini…” teriak laki-laki yang bernama Vito itu lalu dia mengambil sebuah kayu dari meja dihadapannya. Dia menghantamkan kayu kecil itu kebarang-barang yang terpanjang diatas lemari itu, kepiring2 plastic dan beberapa buah-an segar yang ada dimeja samping ayahnya, dan menghantam kayunya ke kain gorden dan kebeberapa barang yang bisa menjadi pelampiasan emosinya yang tertahan.
lalu kembali berteriak, “aku sudah tidak sanggup papa… rasanya aku ingin mati saja dari pada melihatmu begitu menderita, kenapa harus papa??? Kenapa ini terjadi papa…kita sudah tidak peduli kehilangan rumah, perusahaan dan semuanya papa… kita selalu berusaha memberikan obat terbaik demi kesembuhan papa… tapi kenapa papa tidak mau sembuh? Papa, Vito harus bagaimana?” teriak Vito sendiri seperti orang gila sambil sesekali kembali menghantam barang-barang diruang ICU itu. Sehingga membuat semua barang-barang terjatuh dan berserakan dilantai.
Vito mendekati baringan papanya dan memegang tangan ayahnya dan dipukulkan tangan itu kewajahnya sendiri, “pukullah aku papa, pukul aku… jika itu bisa membuatmu bangun aku rela dipukul dan melakukan apa saja untukmu…” kembali vito melepaskan tangan ayahnya dan terisak menangis.
Sepertinya ia sangat kesal sekali… “ArkkkkKKKK!!!!!!” dia berteriak sangat keras sekali dan kembali memukul meja, lalu parcel-parcel, bunga dan bahkan makanan dia sendiri yang belum sempat ia makan. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar membawa kayu itu dan berhenti sejenak untuk membalikan badan dan melihat tubuh ayahnya, sehingga membuat air matanya semakin deras mengalir, “sumpah aku tidak sanggup melihatnya… lebih baik aku mati…”. Lalu Vito berjalan keluar dan menuju keteras depan dilantai paling tinggi dirumah sakit itu.
Dimata papanya yang berbaring lemah mulai meneteskan air mata, bibirnya mulai bergetar tapi tidak sanggup mengeluarkan kata, jari-jarinya sedikit bergerak, sepertinya ia mendengar semua yang diucapkan anaknya. Namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk memberikan tanda-tanda kehidupan. Oleh karena itu dia hanya bisa bersedih dan meneteskan air mata dengan mata terpenjam, meskipun dalam pandangannya gelap tapi dia bisa melihat semua ruangan itu dengan telinganya. Dia juga ingin merasakan kesembuhan secepatnya, Namun apa daya…
***
Tampak vito duduk dipinggiran gedung itu sambil menatap langit sore… langit sore yang mendung… menatapnya saja membuat hati resah dan gelisah, apalagi jika sedang bersedih. Vito duduk ditepi teras rumah sakit yang sangat tinggi, maka jika dia bergeser sedikit bisa membuat dia terjatuh dan mati dari ketinggian 7 lantai. Gedung-gedung tinggi dan awan-awan kecil ada dihadapan pandangannya. Vito melamun sambil memeluk sebuah tongkat kayu, dia kembali mengenang masa-masa kebersamaan keluarganya bersama ayahnya ketika sehat dan didalam hatinya berkata,

“Dulu aku memiliki segalanya… semua sepertinya berjalan mulus… namun entah kenapa? Semua menjadi seperti ini? Papa koma, perusahaannya juga bangkrut, penyakitku ga bisa sembuh bahkan rumah kami pun sebentar lagi akan disita… aku tidak sanggup melihat semua itu? haruskah aku melompat kebawah dan semuanya selesai dengan Sad Ending?”
***

Flashback

3 bulan sebelumnya...


To be continue...

Note: teman-teman ini cerita Novel saya yang kedua ya, judulnya Triangle Love it's about comedy love story... jangan lupa baca lanjutanya ya? klik disini --> "DERMAGA".

Oh ya,,, baca juga Novel Pertama saya, judulnya
The Neighbour
open The door if you dare
and discover the secret

Sipnosis

Cerita ini bukan berawal dari sebuah dongeng…
Bukan juga sebuah lagenda…
Tapi sebuah sejarah yang pernah ada…
Sejarah yang sudah menjadi mitos…
Mitos yang ditakuti oleh semua siswa disekolah itu…
It’s a True Story…

Berawal dari kenakalan siswa yang bernama Xmon,
dengan obsesinya yang besar untuk melihat hantu,
Dia mencoba membuka sumur angker yang sudah ditutup sejak 20 tahun yang lalu
dan masuk kekelas kosong yang dilarang dalam mitos.

Hingga suatu ketika…
hantu-hantu dalam imajinasinya menjadi benar-benar ada dan menerornya…
apakah yang sebenarnya terjadi dengan Xmon hingga dia terus-terusan dihantui keluarga aneh disebelah rumahnya?

Anda akan menemukan cerita kocak persahabatan, percintaan, budaya Tionghua, broken home hingga teror-teror yang membuat imajinasi anda ikut bermain…
Temukan jawabannya dalam rumah kosong itu,
Beranikah anda membuka pintunya dan menemukan jawaban akhirnya?

note: dapatkan segera novelnya!!!
bisa pesan online lewat penerbitnya disini
http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1108232/the_neighbour/11071821/poe_edyson
atau hubungi kontak dibawah ini
081388042525

Thanx all...
moga terhibur dan menginspirasi...